Showing posts with label Belajar. Show all posts
Showing posts with label Belajar. Show all posts

Wednesday, November 16, 2011

Tidak Belajar Prestasi Sekolah Memuaskan, Kok Bisa?

“DEK, nggak belajar, ada PR, kan?” Lain hari, “Besok ada ulangan kan? Kok nggak belajar?” Sampai pada suatu waktu, “Dek, Mama lihat kok kamu nggak pernah belajar sih!”.

Tak sedikit orangtua dibuat bingung dalam menghadapi si kecil yang ‘tidak mau’ belajar. Tapi yang lebih membingungkan, biarpun tidak belajar, nilai-nilai yang diperolehnya memuaskan dan prestasinya di sekolah cukup membanggakan. Kok bisa ya? Kapan dia belajar?

Jangan tambah bingung Moms, bisa saja si kecil ‘penganut’ gaya belajar auditori. Kalau masih bingung, nggak ada salahnya Moms menyimak pembahasan di bawah ini.

Tiga Gaya Beda Cara

Perlu diketahui, ada tiga karakteristik cara belajar anak, yaitu auditori, visual dan kinestetik. Cara belajar auditori belajar dengan mendengar. Anak yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga.

Cara belajar visual belajar dengan cara melihat. Anak bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan. Dan yang terakhir adalah cara belajar kinestetik belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh.

Mendengar dan Menyimak

Khusus untuk gaya belajar auditori, anak memang lebih mudah menangkap materi pelajaran dengan mendengar dan menyimak apa yang guru jelaskan. Dan inilah yang kadang menjadi kesalahpahaman para orangtua. Karena, mereka seringkali melihat si kecil tidak pernah belajar saat di rumah.

Menurut Barbe (1998) dalam bukunya Growing Up Learning: Identifying and Teaching Children With Different Learning Styles, anak dengan gaya belajar auditori adalah anak-anak yang aktif berbicara, mungkin ia menganggu teman-temannya di kelas karena membaca buku dengan keras dan berpikir ia sedang membaca sendiri; ia kerap mengulang-ulang kata baru yang ia pelajari; ia aktif bertanya dan tidak mudah puas dengan jawaban “tidak tahu” karena ia akan terus bertanya; emosinya mudah dikenali dengan suara yang makin keras atau cara ia memecahkan masalahnya dengan mencari teman berbicara; mungkin saat sedang mengerjakan sesuatu ia menyenandungkan lagu, ia bergumam sambil bermain; suka berbicara tapi sering tak sabar jika harus mendengar orang lain bicara. Bila Moms menemui gaya belajar si kecil seperti itu, berarti si kecil memiliki gaya belajar auditori.

Plus-Minus Belajar Auditori

Prinsipnya, setiap gaya belajar ada kelebihan dan kekurangannya. Seperti halnya gaya belajar auditori. Pada gaya belajar ini, anak cukup mendengarkan untuk memahami apa yang diutarakan oleh guru. Selain itu, Moms juga cenderung lebih mudah mengetahui bila si kecil mengalami masalah, karena dia akan langsung membicarakannya.

Namun sayangnya, gaya auditori ini dianggap mengganggu teman-teman di kelasnya, karena anak aktif berbicara, apalagi saat guru sedang menerangkan atau menjelaskan pelajaran. Tak hanya itu, si kecil mungkin akan mengalami kesulitan ketika dirinya diminta membaca buku-buku pelajaran yang hanya berisikan tulisan.

Anak dengan tipe auditori akan lebih mudah memahami bacaan yang mengandung dialog antartokohnya, jika ada yang menemaninya membaca atau jika dia membaca dengan bersuara cukup keras sehingga dapat dia dengarkan sendiri.

Walaupun anak cepat memahami dengan apa yang sudah didengarnya, tidak ingat atau lupa mungkin saja terjadi. Nah, untuk anak dengan gaya belajar seperti ini, Moms bisa memintanya membuat catatan kecil berisi hal-hal/poin-poin penting yang dia dengar, tak harus mencatat dengan rapi semua penjelasan guru. Pengulangan dengan membaca keras atau mengulang kata-kata yang perlu diingat juga akan berguna bagi mereka dalam mengingat kembali apa yang sudah didengar.

Tetap Dukung Gaya Belajarnya

Untuk mengetahui gaya belajar si kecil, Moms dapat mengamati tingkah lakunya sehari-hari. Misal, bila anak cepat hapal dengan tempat-tepat, simbol atau cepat tanggap bila diterangkan dengan bagan, artinya kepekaan visualnya bagus.

Setelah mengetahui gaya belajar si kecil, dukunglah ia dengan masing-masing cara yang dikuasainya. Untuk cara belajar auditorial, orangtua jangan melarang anak menghapal sambil berbicara keras. Gunakan pengulangan ucapan, namun jangan terlalu panjang. Berikan kesempatan baginya untuk tanya-jawab atau membaca keras – cukup didengar olehnya tanpa bisa didengar orang lain - soal yang diberikan. Jika memungkinkan libatkan si kecil dalam kelompok-kelompok diskusi sehingga ia akan lebih mudah memahami materi. Pada anak yang lebih besar - jika memungkinkan - materi yang diajarkan akan lebih terekam dalam ingatannya dan mudah untuk memutar ulang kembali di rumah daripada diminta hanya sekadar membaca bahan-bahan foto kopi. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie) (ftr)

READ MORE - Tidak Belajar Prestasi Sekolah Memuaskan, Kok Bisa?

Thursday, February 10, 2011

Anak Perlu Belajar dari Pengalaman Nyata

shutterstock Belajar dari pengalaman nyata bikin anak lebih mudah memahami berbagai pengetahuan. Artikel Terkait: Lifebuoy Health Institute Dibuka di KidZania GramediaShop : Resep Cinta GramediaShop : Maximum Ride #1 Jumat, 28/1/2011 | 11:45 WIB

KOMPAS.com - Pengalaman menjadi guru terbaik, termasuk bagi anak-anak. Metode belajar dari pengalaman nyata lebih efektif bagi anak, karena mereka merasa lebih diyakinkan. Pengetahuan yang anak dapatkan dari pengalaman belajar langsung ini lebih mudah dicerna dan terekam dalam memorinya.

Sebagai contoh, jika ingin mengajarkan kebiasaan baik mencuci tangan pakai sabun (CTPS) sebagai bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), berikan contoh dan libatkan anak dalam pembelajaran mengenai kesehatan tubuh. Kenalkan kepada anak apa yang disebut sebagai kuman yang menempel pada tangan. Selain itu kenalkan manfaat sabun dan cara mencuci tangan yang benar. Jadikan kebiasaan CTPS sebagai rutinitas harian yang memberikan pengalaman menyenangkan. 

Menurut health motivator, dr Handrawan Nadesul, metode pembelajaran afektif dalam melatih kebiasaan baik pada anak akan lebih efektif daripada menggunakan cara kognitif. Artinya belajar melalui kebiasaan bersikap atau pengalaman langsung akan lebih mengena pada anak daripada mengajarkan anak melalui teori yang mengandalkan pikiran atau sisi intelektual anak saja.

"Belajar dari pengalaman nyata lebih meyakinkan anak. Kalau masih abstrak anak sulit memahami," jelas dr Handrawan, di sela pembukaan Lifebuoy Health Institute di KidZania, Kamis (27/1/2011) lalu.

Pengalaman nyata hasil kolaborasi sabun kesehatan dan miniatur kotanya anak
Pentingnya melibatkan anak dalam kegiatan langsung yang memberikan pengalaman nyata dipahami sebagai kebutuhan oleh Lifebouy dan KidZania. Establishment terbaru KidZania di awal 2011 ini menekankan pentingnya membangun kebiasaan sehat pada anak, dengan memberikan pengalaman nyata yang unik. Memasuki Lifebuoy Health Institute di KidZania, anak akan diberikan jaket dan kacamata layaknya peneliti yang akan memasuki laboratorium.

Untuk menjaga tubuh tetap steril, anak mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, lalu mengeringkannya. Kebiasaan CTPS ini boleh jadi sudah dijalankan di rumah. Namun di sini, anak mendapatkan pengalaman langsung dibimbing oleh pendamping yang mengajarkan cara mencuci tangan yang baik dan benar. Institut kesehatan mini berukuran 60 m2 berkapasitas delapan anak ini memungkinkan pendamping untuk melatih kebiasan CTPS yang baik dan benar.

"Mencuci tangan yang baik dan benar harus dengan sabun dan air mengalir, biasanya selama 20 detik. Sebenarnya dengan menggunakan sabun yang tepat, dalam 10 detik kuman sudah mati," jelas Amalia Sarah Santi, Senior Brand Manager Lifebuoy.

Rangkaian kegiatan di institut mini ini berdurasi 20 menit. Selain mengajarkan kebiasaan PHBS, anak juga berkenalan dengan profesi peneliti. Karena di sini anak bisa belajar cara pembuatan sabun batang dan sabun cair. Yang menarik, anak juga bisa mengenali kuman yang menempel di tangan melalui glo germ yang menyerupai kuman, lalu disinari UV scanner. Dengan begitu anak bisa memahami seperti apa kuman menempel dan bagaimana caranya agar kuman mati dan tak lagi tertinggal di tangan dengan kebiasaan CTPS.

Menurut Ari Kartika, Head of Marketing Communication KidZania, konsep establishment memang ingin memberikan pengalaman langsung kepada anak, sekaligus mengenalkan berbagai profesi yang ada di kehidupan nyata.

"Saat ini sudah ada 72 establishment di KidZania dan lebih dari 100 profesi yang bisa dikenalkan kepada anak," jelas Ari kepada Kompas Female.

Pengalaman nyata di miniatur kota surganya anak-anak ini memberikan pengetahuan dan pembelajaran yang lebih menarik bagi anak. "Masih banyak profesi yang belum dikenalkan di sini," kata Ari, yang berharap tahun depan KidZania bisa menambah kapasitas ruang untuk mengenalkan lebih banyak lagi profesi dan bekerjasama dengan beragam sponsor untuk memberikan pengalaman nyata pada anak-anak. 


WAF

Editor: Dini     Font: A A A Rate   --> Loading...   Kirim Komentar Anda #comment_list div.pd_5 { padding:5px 0; } Loading data..   Kirim Komentar Anda Silakan login untuk kirim komentar Anda. Komentar Kirim Batal Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. -->-->--> -->-->

About Kompas.com | Advertise With Us | Info iklan | Privacy policy | Terms of use | Karir | Contact Us© 2008 - 2011
READ MORE - Anak Perlu Belajar dari Pengalaman Nyata

Wednesday, February 9, 2011

Belajar Nutrisi dari Dokter Kecil

APRIANITA GANADI Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal bersama pemenang Penghargaan Nasional Dokter Kecil-Mahir Gizi: Sehat Dimulai Dari Sekolahmu, Jumat (6/08/2010), di Jakarta. Artikel Terkait: Edukasi Gizi Dancow untuk Ibu-Anak SDN Grogol 05 Raih Dokter Kecil Nasional GramediaShop : Devil In Winter GramediaShop : The Royal Wedding Night Minggu, 30/1/2011 | 17:23 WIB

KOMPAS.com — Berdasarkan data 2008, lebih dari 70 persen anak kekurangan kalori dan zat gizi dalam asupan makanannya. Adapun menurut data 2007, sebanyak 13,3 persen anak laki-laki 6-14 tahun berbadan kurus dan 10,9 persen anak perempuan mengalami masalah yang sama. Hingga kini gizi anak usia sekolah masih memprihatinkan. Dr Saptawati Bardosono dari Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) menyebutkan hal itu dalam paparannya pada peluncuran program Caravan Gizi Dancow 2011 di Plaza Barat Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (30/1/2011). Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan berbagai pihak untuk memberikan edukasi tentang pentingnya asupan gizi pada anak.

"Problemnya terletak pada minimnya asupan zat gizi dan kalori pada makanan anak. Harus ada kerja sama siswa, orangtua, dan guru dalam mengatasi masalah nutrisi pada anak usia sekolah. Orangtua harus mendukung, sementara siswa perlu diperkuat dengan peningkatan kesadaran mengenai nutrisi. Anak harus memahami bahwa mereka berhak terlibat," ujar ahli gizi yang akrab disapa Dr Tati ini.

Berdasarkan fakta ini, merek susu bubuk Dancow melanjutkan program edukasi gizi bertajuk Caravan Gizi Dancow yang dirancang bersama PDGMI sejak 2008. Pada 2011, Caravan Gizi Dancow menyasar lebih banyak anak usia sekolah melalui program Dokter Kecil Mahir Gizi di tingkat SD. Di samping itu, ada fasilitas konsultasi gratis untuk kaum ibu melalui bus konsultasi Dancow. Fasilitas itu dilengkapi berbagai perlengkapan dan peralatan kesehatan, seperti bacaan, poster, pengukur tinggi dan berat badan, serta paspor sehat.

Jika pada 2010 Caravan Gizi Dancow berhasil melatih 1.200 Dokter Kecil Mahir Gizi dari 300 SD di 19 kota, tahun ini terjadi penambahan kuantitas. Tiga bus konsultasi Dancow mulai dikerahkan sejak Minggu ini untuk memperluas jaringan edukasi ke 500 SD di 41 kota melalui 2.000 Dokter Kecil Mahir Gizi serta 8.000 orangtua di 80 pasar tradisional di 30 kota.

Menurut Dr Tati, nutrisi yang baik bisa dipenuhi ibu untuk anak sejak dalam kehamilan. Jika kebutuhan nutrisi tak terpenuhi pada periode emas (sejak anak dalam kandungan hingga lahir sampai dua tahun), masih ada waktu untuk memperbaiki gizi anak pada masa emas kedua.

"Sebelum pubertas masih ada kesempatan untuk memperbaiki gizi anak," ia menjelaskan. Yang tergolong anak usia sekolah adalah anak dengan usia 7-15 tahun.

Mendidik gizi melalui dokter cilik
Metode interaktif melalui permainan dan program yang digemari anak mendorong kesadaran untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat pada anak usia sekolah. Cara inilah yang dipilih Dancow dari Nestle.

Mengambil tema "Sehat Dimulai dari Sekolahmu", Nestle Dancow kembali menjalankan misi edukasi nutrisi ke sekolah, seperti yang dilakukan setahun silam. Melalui rangkaian kegiatan edukasi inilah akan dicetak Dokter Kecil Mahir Gizi yang dilatih menjadi agen perubahan. Melalui anak-anak usia sekolah ini edukasi nutrisi diharapkan menyebar luas di tingkat sekolah hingga di lingkungan rumah.

"Anak usia sekolah sudah bisa menentukan keinginannya. Mereka perlu dilibatkan," kata Pritha, Category Marketing Manager Nestle Dancow. Pritha melanjutkan, keterlibatan anak dalam program edukasi nutrisi dimulai sejak 2009. "Program ini mengalami evolusi dari tahun ke tahun. Jika pada tahap pertama edukasi dijalankan melalui puskesmas dan komunitas ibu, seperti arisan, mulai 2009 anak-anak sekolah dilibatkan," ujarnya.

Seperti tahun lalu, akan dipilih empat anak dari setiap sekolah yang akan dilatih menjadi Dokter Kecil Mahir Gizi. Akan ada sekitar 2.000 Dokter Kecil Mahir Gizi pada 2011 ini. Dokter cilik inilah yang akan memasuki masa karantina. Pengalaman tahun lalu, karantina dilakukan selama tiga hari. Di sinilah anak-anak dari berbagai SD akan mendapatkan pengetahuan mengenai makanan, jajanan, dan kantin sehat. Mereka juga akan belajar cara menentukan status gizi dengan mengukur tinggi dan berat badan, menggunakan grafik untuk membaca status gizi, serta teknik komunikasi penyuluhan kesehatan dan cara menyiapkan materi presentasi. Anak-anak disiapkan menjadi agen perubahan untuk kesehatan dan kebersihan di sekolahnya.

"Setelah melewati masa karantina, mereka akan dikembalikan ke sekolah untuk menjalankan proyek. Dalam kurun waktu 2-3 bulan tim penilai dari PDGMI lokal, Nestle, dan fasilitator akan memberikan penilaian. Dari sini diperoleh juara regional untuk dikompetisikan di level nasional," papar Pritha.

Metode ini tak hanya akan mengharumkan nama sekolah anak. Sebagai individu, anak juga memiliki kebanggaan dan pencapaian atas dirinya. Sebab, anak berhasil menjadi agen perubahan di sekolahnya dan tentu meraih titel Dokter Kecil Mahir Gizi. Penilaian memilih empat anak sebagai perwakilan sekolah juga didasarkan pada mata pelajaran seputar kesehatan di sekolahnya. Artinya, anak yang berhasil menjalani peran ini memiliki kemampuan kognitif dan afektif. Tak hanya pintar dalam teori, anak juga mahir mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui peran dokter kecil inilah anak-anak bisa memahami pentingnya memiliki 10 tanda umum anak bergizi baik. Untuk memahami 10 tanda ini, Dancow juga menciptakan senam massal yang bisa dipraktikkan siswa di sekolah. Gerakan senam 10 tanda dari Dancow ini dirancang untuk membantu anak memerhatikan asupan gizi dan makanan seimbang dalam kesehariannya.

Anak tak hanya menjadi paham pentingnya menjaga gizi dan nutrisi. Melalui rangkaian program ini, anak melatih kemampuan komunikasi serta berani tampil di muka umum dengan perannya sebagai duta sekolahnya. Anak juga kreatif mencari ide unik dalam proyek kesehatan yang dilombakan guna meraih tiket kompetisi kesehatan ke level nasional.

Di luar manfaat positif bagi tumbuh kembang anak, program ini juga memberikan hadiah yang tak kalah menarik. Juara satu level nasional akan mendapatkan uang tunai Rp 10 juta untuk pembuatan kantin sehat sekolah serta kunjungan ke pabrik Dancow di Pasuruan, Jawa Timur. Juara kedua akan mendapatkan uang tunai Rp 7,5 juta untuk pembuatan kantin sehat sekolah. Adapun juara ketiga mendapat uang tunai Rp 5 juta untuk pembuatan kantin sehat.

Langkah kecil yang dilakukan dokter kecil dari setiap sekolah ini membawa perubahan nyata. Anak Anda bisa saja menjadi salah satu agen perubahan yang inspiratif bagi anak seusianya, bahkan orang dewasa. Seperti Reza (11) dan ketiga rekannya siswa SD Grogol 05 Jakarta, mereka sukses menyabet juara pertama di Caravan Gizi Dancow 2010.

"Jadilah agen perubahan untuk kebersihan dan kesehatan di sekolahmu," ucap keempat anak ini serempak, memotivasi anak seusia mereka untuk pencapaian yang sama.


WAF

Editor: Dini     Font: A A A Rate   --> Loading...   Kirim Komentar Anda #comment_list div.pd_5 { padding:5px 0; } Loading data..   Kirim Komentar Anda Silakan login untuk kirim komentar Anda. Komentar Kirim Batal Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. -->-->--> -->-->

About Kompas.com | Advertise With Us | Info iklan | Privacy policy | Terms of use | Karir | Contact Us© 2008 - 2011
READ MORE - Belajar Nutrisi dari Dokter Kecil