Showing posts with label Waspadai. Show all posts
Showing posts with label Waspadai. Show all posts

Sunday, November 13, 2011

Hamil? Waspadai Pertumbuhan Janin!

KEKE sontak terkejut saat periksa ke dokter kandungan, janinnya divonis mengalami gangguan pertumbuhan, dalam istilah medis disebut IUGR (Intra Uterine Growth Restriction). Kekhawatiran dan berbagai pertanyaan muncul dalam benak Keke, apakah janinnya akan selamat? Jika selamat, akankah ia tumbuh normal?

Gangguan pertumbuhan janin terbagi dua, yaitu makrosomia (bayi lahir besar, > 4 kg) dan IUGR. IUGR (Intra Uterine Growth Restriction) bisa juga disebut dengan istilah small for gestational age (SGA) atau Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT).

“Istilah ini menggambarkan kondisi janin lebih kecil dari yang diharapkan sesuai dengan usia kehamilan, yaitu bayi yang berat badan lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari persentil ke-10 untuk masa kehamilan pada Denver Intrauterine Growth Curves,” jelas dr. M.S. Nadir Chan, SpOG (K).

Artinya janin memiliki berat kurang dari 90 persen dari keseluruhan (baik ukuran atau berat) dalam usia kehamilan yang sama, dibandingkan dengan janin normal. Janin dengan PJT dapat terjadi pada janin dengan usia kehamilan prematur, aterm (cukup bulan) maupun post matur (lebih bulan).

Penyebab: Multifaktor

- Faktor risiko ibu

Ibu yang merokok, menggunakan obat tertentu (kortikosteroid, heroin, dll), peminum alkohol, anemia, malnutrisi berat (berat badan < 50 kg), tekanan darah tinggi dan diabetes (baik sebelum atau saat hamil), penyakit ginjal kronis dan sakit jantung.

- Faktor risiko janin

Janin kembar, infeksi (Rubela dan cytomegalovirus/CMV) adalah infeksi tersering yang menyebabkan PJT), kelainan bawaan, kelainan kromosom (misalnya trisomi 18 atau 21, sindroma Turner).

- Faktor risiko rahim dan plasenta

Penurunan aliran darah di rahim dan plasenta, infeksi di jaringan ikat sekitar rahim, gangguan pada plasenta (misalnya plasenta abruption, plasenta previa, infark plasenta, chorioangioma) dan twin to twin transfusion syndrome (terjadi pada kehamilan kembar, dimana terjadi ketidakseimbangan suplai nutrisi, sehingga satu janin mendapat nutrisi yang lebih dibandingkan yang satu).

Bisa Dideteksi Sejak Awal

“Adanya kelainan PJT bisa diketahui sejak awal yaitu dengan menggunakan USG. Namun pemeriksaan dengan membandingkan tinggi fundus ((bagian puncak atau atas rahim) dengan usia kehamilan juga bisa digunakan, walau untuk lebih pastinya menggunakan USG atau dengan Doppler Velocimetry untuk mengetahui aliran darah plasenta,” jelas dokter yang berpraktik di Klinik SamMarie Wijaya ini.

Pemeriksaan tambahan mungkin dilakukan bila ingin diketahui faktor penyebab pastinya, misalnya pemeriksaan darah, sehingga tindakan tepat bisa diambil.

Bahaya PJT

Berikut bahaya yang mengintai di balik PJT, baik untuk janin maupun ibu:

1. Janin
- Saat hamil: kekurangan oksigen dan nutrisi, gagal napas saat lahir hingga kematian janin.
- Saat persalinan: hipoksia (kekurangan oksigen)
- Setelah lahir :
a. Langsung:  Asfiksia (sulit bernapas), hipoglikemi (rendahnya kadar gula dalam darah), aspirasi mekonium (terhirupnya BAB janin), hipotermi, perdarahan pada paru, sindrom gangguan gastrointestinal.

b. Tidak langsung : prognosis terburuk ialah PJT yang disebabkan oleh infeksi kongenital dan kelainan kromosom.

2. Ibu
- Preeklamsi, malnutrisi dan penyakit jantung.

Penanganan Harus Cepat

- Jika diketahui PJT saat mendekati hari persalinan, maka tindakan terbaik adalah segera dilahirkan. “Kondisi di luar lebih baik daripada saat dalam kandungan, jika dibiarkan janin bisa mengalami kekurangan oksigen dan tentu sangat berbahaya,” jelas Dokter kelahiran Bukittinggi ini.

- Jika masih jauh dari taksiran persalinan, hanya terapi suportif yang bisa dilakukan. Bila penyebabnya nutrisi BuMil yang kurang maka perbaiki nutrisinya, bila perokok dan akhohol maka harus dihentikan dan lainnya. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie) (ftr)

READ MORE - Hamil? Waspadai Pertumbuhan Janin!

Wednesday, February 9, 2011

Waspadai Gizi Anak Jika Sering Sakit

shutterstock Pastikan gizi anak baik dan seimbang agar tak sering sakit, seperti flu, batuk, diare. Artikel Terkait: Belajar Nutrisi dari Dokter Kecil Edukasi Gizi Dancow untuk Ibu-Anak GramediaShop : Firdaus Yang Hilang GramediaShop : Tsunamix 02 Minggu, 30/1/2011 | 18:23 WIB

KOMPAS.com - Anak usia sekolah, 7-15 tahun, membutuhkan zat gizi lengkap agar dapat tumbuh dan berkembang, serta beraktivitas fisik secara sehat. Sejumlah faktor perlu diperhatikan agar anak tumbuh kembang dengan gizi baik. Seperti pola makan seimbang, dari jenis, jumlah, dan jadwalnya. Lalu kebiasaan menjalani Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Serta, yang juga tak kalah penting adalah fasilitas kebersihan dan kesehatan yang menunjang gizi baik untuk anak. Kebiasaan anak menjaga kebersihan diri dan lingkungan di sekolah, termasuk pilihan jajanan sehat dan ketersediaan kantin sehat di sekolah juga turut memengaruhi status gizi anak.

Banyak tanda yang bisa dikenali orangtua untuk mengetahui status gizi anak. Dr Saptawati Bardosono, MSc, dari Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) menyebutkan ada 10 tanda umum anak bergizi baik. Sepuluh tanda ini dirancang PDGMI bersama susu bubuk Dancow dalam program edukasi nutrisi bertajuk Caravan Gizi Dancow yang bergulir sejak 2008 silam.

Jika anak Anda memiliki sepuluh tanda ini secara keseluruhan, artinya gizinya terpenuhi dan berstatus baik.
1. Bertambah umur, bertambah berat, bertambah tinggi.
2. Postur tubuh tegap dan otot padat.
3. Rambut berkilau dan kuat.
4. Kulit dan kuku bersih dan tidak pucat.
5. Wajah ceria, mata bening, dan bibir segar.
6. Gigi bersih dan gusi merah muda.
7. Nafsu makan baik dan buang air besar teratur.
8. Bergerak aktif dan berbicara sesuai umur.
9. Penuh perhatian dan bereaksi aktif.
10. Tidur nyenyak.

Sebaliknya, jika semua tanda ini tak didapati dari anak Anda, saatnya mengecek kembali asupan nutrisi pada anak. Selain itu, kata ahli gizi yang akrab disapa Dr Tati ini, faktor lain yang menandakan gizi buruk pada anak di antaranya seringkali sakit.

"Jika anak sering absen, bolos sekolah karena sakit, ini pertanda daya tahan tubuh tidak baik. Misalnya setiap minggu pasti ada absennya. Jika pun anak sembuh, namun dua hari kemudian ia sakit lagi," jelas Dr Tati kepada Kompas Female, usai peluncuran program Caravan Gizi Dancow 2011 di Jakarta, Minggu (30/1/2011).

Penyakit seperti batuk, pilek, dan diare yang sering menyerang anak menjadi pertanda gizi anak yang buruk, lanjutnya.

Menyiapkan gizi baik untuk anak
Gizi baik dan seimbang untuk anak harus mulai dipersiapkan sejak masa kehamilan, kata Dr Tati. Kehamilan dan masa pertumbuhan janin adalah masa pertumbuhan otak pada bayi. Janin membutuhkan gizi mikro dan protein yang cukup pada masa membangun tinggi badan potensial. Sementara, pada masa membangun berat potensial, janin membutuhkan kalori. Pada masa inilah ibu hamil perlu memerhatikan asupan makanan bergizi untuk menyiapkan anak bergizi baik.

Sementara, sejak bayi dilahirkan hingga usia dua tahun, seluruh zat gizi mikro dan makro secara seimbang mutlak dibutuhkan. Masa tumbuh kembang anak ini punya peran penting dalam mencapai tinggi, berat, dan perkembangan yang optimal.

Yang juga penting diperhatikan adalah asupan gizi pada anak usia sekolah, sebelum pubertas. Pada masa ini, orangtua masih dapat memperbaiki gizi anak jika sebelumnya anak kekurangan asupan nutrisi seimbang.

Rumus pola makan seimbang wajib dipahami orangtua. Yakni, memastikan anak mengasup 50-60 persen kalori dari makanan kaya karbohidrat, 20-30 persen kalori dari makanan sumber lemak, dan 10-20 persen kalori dari makanan sumber protein. Ini adalah asupan gizi seimbang dari segi jumlah, jelas Dr Tati dalam paparannya mengenai gizi seimbang.

Sementara dari segi jenis, bahan makanan harus bervariasi. Nasi, lauk pauk, sayur, buah serta susu adalah kombinasi yang disarankan untuk mendapatkan asupan nutrisi seimbang bagi anak. Gizi seimbang juga dilihat dari jadwal makan, yakni tiga kali makan dan 2-3 kali selingan setiap harinya. Kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebelum makan juga menunjang gizi seimbang pada anak.

Untuk memastikan anak mendapatkan gizi seimbang, siapkan bekal makanan sehat ke sekolah. Dengan begitu, anak terhindar dari bahaya jajanan tidak sehat di lingkungan sekolahnya.


WAF

Editor: Dini     Font: A A A Rate   --> Loading...   Kirim Komentar Anda #comment_list div.pd_5 { padding:5px 0; } Loading data..   Kirim Komentar Anda Silakan login untuk kirim komentar Anda. Komentar Kirim Batal Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. -->-->--> -->-->

About Kompas.com | Advertise With Us | Info iklan | Privacy policy | Terms of use | Karir | Contact Us© 2008 - 2011
READ MORE - Waspadai Gizi Anak Jika Sering Sakit