Thursday, December 29, 2011

Minyak Zaitun Yang Ajaib

Minyak Zaitun Yang Ajaib- Bagi orang Yunani, zaitun merupakan simbol berharga bagi bangsawan serta perdamaian. Tetapi lebih dari itu, mereka tahu keajaiban yang terkandung di dalamnya, yang membuat mereka tak pernah memberikannya ke yang lain.

Minyak zaitun memiliki banyak khasiat, selain dapat menjaga kadar kolesterol, juga sebagai pengontrol gula dalam darah. Ini adalah salah satu minyak yang paling mudah dicerna. Sirami di atas beberapa sayuran atau celupkan sepotong roti gandum di beberapa bagiannya lalu nikmati sebagai camilan, Kamis (29/12).

Selain itu, bisa juga dinikmati dengan menambahkan ke hidangan pedas atau makanan asam. Coba tambahkan minyak zaitun saat membuat saus. Buatlah campuran minyak zaitun dengan bawang, rempah-rempah dan bawang putih untuk saus pasta. Untuk dapatkan rasa asin sensasional pada masakan daging Anda, Anda bisa menggunakan jenis minyak ini. Karena minyak zaitun bisa menjadi penetrasi yang lebih baik dari rasa tersebut.

Untuk menumis atau menggoreng, yang terbaik gunakan kombinasi ekstra asli dan minyak zaitun secara teratur. Tambahkan rasa dengan menggunakan minyak zaitun melalui suntikan daun herbal kering. Baiknya, simpan di tempat sejuk dan gelap dengan wadah tertutup rapat. Menjaga minyak zaitun di lemari es, bisa membuatnya tebal.
Powered By Crystal X dan Acai plus
READ MORE - Minyak Zaitun Yang Ajaib

Tuesday, December 13, 2011

Puting Payudara Kendur Akibat rokok

Merokok bagi kaum hawa bisa menyebabkan berbagai penyakit, termasuk gangguan kehamilan dan janin. Selain itu, sebuah penelitian terbaru juga mengungkapkan jika merokok bisa menyebabkan puting payudara mengendur.

Dr Anthony Youn, salah satu dokter bedah plastik terbaik dari Amerika Serikat, mengatakan, jika Anda seorang perokok, puting payudara akan melorot lebih cepat. Nikotin dan karbon monoksida selama merokok dapat mengganggu aliran darah ke berbagai bagian tubuh. Racun dalam asap rokok efektif membunuh sel-sel tubuh dengan menghentikan aliran darah ke sel.

Selain itu, bagi wanita yang melakukan operasi pengangkutan payudara, dampak yang sama justru lebih besar terjadi. Hal itu karena merokok mengganggu proses penyembuhan setelah operasi. "Saya merasa takut setiap kali melihat pasien yang merupakan perokok aktif, setelah melakukan operasi payudara payudara," ungkapnya.

Dia juga mengungkapkan pernah bekerja dengan wanita yang memiliki puting ungu setelah merokok. Itu karena, merokok menyebabkan pembuluh darah kecil di payudara gagal berfungsi. Penelitian juga menunjukkan bahwa perokok memiliki masalah lebih dalam hal durasi penyembuhan luka dibandingk dengan seseorang yang tidak merokok.

Bahkan, dia harus menggunakan lintah selama beberapa hari untuk mengisap darah kotor yang membuat puting di payudara wanita itu menjadi ungu. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan warna asli puting.

Powered : Crystal X dan Acai Plus
READ MORE - Puting Payudara Kendur Akibat rokok

Thursday, November 17, 2011

Kala Anak Beradaptasi dengan Perceraian

READ MORE - Kala Anak Beradaptasi dengan Perceraian

Bayi Butuh Bahasa Isyarat? Tentu Saja!

BUKAN hanya dengan menangis, tersenyum atau tertawa, bahasa isyarat juga menjadi jembatan bagi bayi untuk berkomunikasi dengan orang sekitarnya. Banyak sekali keuntungan yang bisa didapatkan dengan mengajarkan bayi Anda bahasa isyarat. Mau tahu? 
Berikut ulasan dari Nisfie M H Salanto Mpsi dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia.
Mulai Usia 2 Bulan
 
Mulai dari usia 2 bulan, bayi sudah bisa diajarkan bahasa isyarat. Karena masa pra-verbal adalah di bawah usia 14 bulan.
Tetapi bila usia si kecil sudah di atas 2 bulan pun, Moms tak perlu merasa sudah telat dan tertinggal. Selama bayi masih berada pada usia pra-verbal, masih bisa kok diajarkan bahasa isyarat.
Bahasa Sederhana
Bahasa isyarat seperti apa? Tentu saja bahasa tubuh/body language sederhana yang dimaksudkan untuk menegaskan keinginan kita.
Selain menangis, tersenyum, tertawa yang merupakan bahasa awal bayi, bahasa isyarat lain yang bisa diajarkan antara lain: mengajak (menaik-turunkan jari-jari tangan), menunjuk sesuatu, melarang sesuatu (menggelengkan kepala), atau instruksi-intruksi sederhana seperti: dadah (melambaikan tangan ke kanan dan ke kiri), mengajak tidur (menutup mata), makan (mengerucutkan jari tangan dan mengarahkannya ke mulut), dan sebagainya.
Tak sulit, bukan? Itu hanya sedikit dari sekian banyak bahasa isyarat sederhana yang bisa diajarkan.
Cara Mengajarkan
Dalam satu hari, Anda bisa mengajarkan bahasa isyarat pada si kecil dengan cara yang sealamiah mungkin. Durasinya tak perlu lama! Walau sesaat, bayi Anda fokus dan memerhatikan kok apa yang Anda ajarkan.
Perlu diingat, kemampuan si kecil tak sama dengan kemampuan orang dewasa. Jadi, jangan memaksakan terlalu banyak bahasa isyarat saat mengajarkannya.
Berikut beberapa cara mengajarkannya:
- Ajarkan 1 – 2 bahasa isyarat secara intens dan konsisten setiap hari. Tak perlu banyak bahasa isyarat dalam satu hari.
- Libatkan orang lain selain Anda, misalnya Ayah, Oma, Opa, baby sitter dan yang ada di dalam rumah untuk selalu menggunakan bahasa isyarat yang dibarengi dengan suara. Misalnya, mengajarkan bayi bahasa isyarat ‘makan’ dengan berkata, “Adek, mau makan?” diiringi dengan isyarat tangan - kelima jari mengerucut dan mengarah ke depan mulut, dan bahasa isyarat lainnya.
-Bersabarlah. Bahasa adalah hasil bentukan yang berulang dan perlu waktu untuk bisa dipahami si kecil. Anda harus sering melatih dan mengulang terus menerus tanpa kenal bosan dan lelah.
- Sejajarkan tinggi tubuh Moms dengan si kecil. Misalnya dengan menekuk lutut agar pandangan Moms sejajar dengan pandangan mata si kecil.
- Ajarkan bahasa tubuh yang sederhana, jangan yang sulit dengan perintah double. Misalnya, meminta si kecil mengambil bola, setelah itu mengambil tas kotak berwarna biru dekat meja makan berwarna coklat, dan lainnya. Ini akan membingungkannya.
- Seiring dengan bertambahnya usia anak, bahasa isyarat harus ditambah dengan bahasa tubuh yang lain untuk memperkaya pengetahuan tentang bahasa tersebut.
1001 Manfaat
- Bahasa isyarat akan memotivasi bayi untuk mau berkomunikasi karena ia belum bisa menggunakan bahasa verbal (melalui kata-kata).
- Bahasa isyarat adalah jembatan bagi si kecil untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain seperti Moms, Dads, baby sitter, Oma, Opa, Om, Tante dan kepada orang lainnya. Karena semakin ia besar maka menangis dan tersenyum yang merupakan bahasa awal, tidaklah cukup untuk mengutarakan maksud dan tujuan yang ia ingin utarakan.
- Bahasa isyarat juga tidak membebani si kecil karena selain mudah dilakukan ia juga tidak perlu bicara untuk melakukannya.
- Meminimalkan kadar frustrasi pada si kecil dan orangtua karena mampu memahami dan mudah dipahami oleh orang lain di luar dirinya sendiri.
- Membuat si kecil merasa nyaman dan bahagia karena semua orang mengerti apa maksud yang ia tuju.
- Menambah kepercayaan diri anak ketika menghadapi orang lain. Pada bayi yang tidak diajarkan bahasa isyarat, anak cenderung kurang responsif dan kemampuan bahasanya jadi lebih terhambat.
- Untuk anak-anak yang mempunyai gangguan pendengaran, bahasa isyarat memberikan bantuan pada mereka untuk memahami sesuatu.
- Anak-anak yang diajarkan bahasa isyarat akan lebih memahami kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan saat di rumah, di lingkungan ketika bermain, di sekolah ataupun di lingkungan lainnya.
- Lebih responsif terhadap lingkungan sekitarnya.
- Akan memahami bahasa verbal sekaligus bahasa tubuh atau bahasa isyarat lainnya ketika kelak ia dewasa dan ketika ia berada di luar negaranya sendiri.
- Secara umum, menggunakan bahasa isyarat bisa melatih dan meningkatkan kecerdasan anak. Karena nantinya selain ia bisa berbicara dengan bahasa verbal, ia pun dapat membaca gesture (bahasa tubuh) orang lain jika dibandingkan dengan anak yang hanya menjawab dengan cara letter look (menjawab singkat).
- Ketika ia dewasa, anak akan lebih peka terhadap bahasa isyarat tubuh orang lain, misalnya dengan mengamati gesture wajah, ia mengerti bahwa seseorang tersebut sedang muram, sedih, senang, atau bahasa tubuh lainnya.
- Memperkaya bahasa isyarat sekaligus bahasa verbal.
Agar Bahasa Isyarat Berjalan Efektif!
- Sertai dengan gerakan, gesture tubuh yang jelas dan pengucapan verbal yang benar.
- Lakukan dengan gerakan lemah lembut dan pelan.
- Tunjukkan dengan muatan kasih sayang, seperti nada suara yang pelan dan baik.
- Gunakan bahasa isyarat sebelum, selama dan setelah aktivitas. Lakukan selama anak berinteraksi dan aktivitas tersebut masih berlangsung. Misalnya, Moms memberikan instruksi padanya untuk mengambil bola yang jatuh di kolong meja. Ucapkan instruksi mengambil bola tersebut dengan nada yang halus seperti: “Dek, tolong ambil bola warna kuning di bawah meja deh (sambil ia berjalan), iya betul itu di bawah meja, Sayang.”
Dan setelah ia mengambil bola tersebut, berikan ia rewards dengan sanjungan, “Iya, betul Adek pintar ya... Terimakasih Dek (sambil Moms berikan tatapan sayang dan mengelus pipi, kepala atau punggungnya).” Atau berikan jempol tanda ia hebat dan paham maksud Moms.
Bahasa Isyarat Bisa Merugikan Jika...
 
- Mengajarkan si kecil bahasa isyarat saja tanpa diiringi bahasa verbal (tanpa bersuara). Bisa-bisa si kecil meniru tingkah laku Moms sehingga ia hanya mengandalkan instruksi bahasa tubuh ketika ingin berkomunikasi dan malas untuk bersuara. Atau, contoh lain, ia hanya mengucapkan “mmm” sambil menunjuk sesuatu.
- Mengajarkan si kecil dengan alat bantu yang salah! Misalnya, Moms ingin menunjukkan sesuatu. Seharusnya menunjuk dengan jari telunjuk tetapi Moms melakukannya dengan dagu dan memajukan bibir. Ini akan menunjukkan pemahaman yang berbeda dan bisa disalahartikan oleh lingkungan.
(tty)
READ MORE - Bayi Butuh Bahasa Isyarat? Tentu Saja!

Kiat Cegah Pertumbuhan Janin Terhambat

GANGGUAN pertumbuhan janin terbagi dua, yaitu makrosomia (bayi lahir besar, > 4 kg) dan IUGR. IUGR (Intra Uterine Growth Restriction) bisa juga disebut dengan istilah small for gestational age (SGA) atau Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT).

“Istilah ini menggambarkan kondisi janin lebih kecil dari yang diharapkan sesuai dengan usia kehamilan, yaitu bayi yang berat badan lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari persentil ke-10 untuk masa kehamilan pada Denver Intrauterine Growth Curves,” jelas dr. M.S. Nadir Chan, SpOG (K).

Artinya janin memiliki berat kurang dari 90 persen dari keseluruhan (baik ukuran atau berat) dalam usia kehamilan yang sama, dibandingkan dengan janin normal. Janin dengan PJT dapat terjadi pada janin dengan usia kehamilan prematur, aterm (cukup bulan) maupun post matur (lebih bulan).

Tipe PJT

Berdasarkan kapan waktu mulai dan pengaruhnya terhadap perkembangan janin, PJT dibagi menjadi 2:

1. Simetris PJT

Dimulai sejak masa kehamilan yang lebih awal (Trimester I), sehingga lingkar dada dan kepala, panjang dan beratnya semua di bawah 10 persentil untuk usia kehamilan, sehingga ukurannya mengecil secara proporsional.

Jika terjadi pada awal pertumbuhan embrio janin (usia kehamilan minggu ke 4 - 20) maka dapat terjadi pengurangan jumlah sel untuk janin. Faktor yang berkaitan adalah kelainan kromosom, infeksi TORCH, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex/HepatitisB/hiv, Syphillis), kekurangan nutirsi berat pada BuMil.

2. Asimetris PJT

Biasanya terjadi sesudah minggu ke-28 kehamilan, tipe asimetris ini merupakan hasil kompensasi janin dalam memberikan reaksi terhadap penurunan aliran darah plasenta yang biasanya berhubungan dengan ibu, seperti gangguan ginjal, hipertensi dan diabetes dalam kehamilan.

Gangguan tipe ini terjadi pada fase hipertrofi, dimana jumlah total sel normal tetapi ukurannya lebih kecil. Cara mencegahnya, antara lain:

- Lakukan pemeriksaan sebelum merencanakan kehamilan. Rencanakan kehamilan secara cermat untuk Moms yang berisiko, misal penderita tekanan darah tinggi dan diabetes mellitus. Hendaknya berkonsultasi dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan. Usahakan pada kondisi yang prima (kadar gula atau tekanan darah terkontrol) sehingga pada saat kehamilan tidak terjadi gangguan, baik pada ibu maupun janin.

- Periksa kehamilan secara rutin. BuMIl dianjurkan melakukan pemeriksaan setiap 4 minggu sampai dengan usia kehamilan 28 minggu. Kemudian, dari minggu ke 28-36, pemeriksaan dilakukan setidaknya setiap 2 minggu sekali. Selanjutnya, lakukan pemeriksaan 1 x seminggu sampai dengan usia kelahiran atau 40 minggu.

- Hidup sehat. Konsumsilah makanan yang sehat, bergizi dan bermanfaat untuk janin, beraktivitas dan olahraga sesuai kemampuan serta istirahat yang cukup.

- Hindari stres selama kehamilan

- Hindari dan stop rokok, alkohol, narkoba dan penggunaan obat secara mandiri. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie)
(ftr)

READ MORE - Kiat Cegah Pertumbuhan Janin Terhambat

Kok Adik Belum Bisa Ngomong?

DI usianya yang ke-16 bulan, anak saya, Kiki, belum bisa mengucapkan kata-kata dengan benar. Apakah ini karena dia sering menonton film kartun yang hanya mengeluarkan suara ‘aa’, ‘oo’, tertawa, tanpa dialog yang jelas, sehingga keterampilan bicaranya terhambat? Atau memang dia mengalami keterlambatan bicara?

Terima kasih. Niken, Tangerang

Jawab:

Efriyani Djuwita. M.Si., psikolog dari “Rumah Sahabat” menjelaskan, perkembangan bahasa pada anak dimulai dari tahapan yang disebut prelinguistik. Tahapan ini mencakup tangisan, cooing dan babbling. Cooing atau mengeluarkan bunyi huruf vokal seperti ‘oo’ atau ‘aa’ dimulai dari usia 1 bulan sampai 3 bulan.

Pada masa ini, mereka belajar untuk bermain dengan bunyi suara mereka sendiri dan berusaha menyamakan suara yang mereka dengar dari lingkungannya. Perkembangan selanjutnya babbling (usia 6-10 bulan), yaitu pengulangan dari rangkaian huruf konsonan dan vokal seperti ‘ma-ma-ma-ma’ atau ‘ya-ya-ya-ya’.

Dan pada usia 10-18 bulan, mereka sudah berada pada tahapan linguistik, dimana dapat mengucapkan satu kata pertamanya. Misal, kata ‘Mama’ yang memang hanya ditujukan pada ibunya saja.

Untuk kasus di atas, sepertinya si kecil masih berada pada tahapan cooing sehingga bisa dikatakan bahwa ia mengalami keterlambatan bahasa ekspresif (lisan). Kecuali jika saat ia berkata ‘aa’ atau ‘oo’ tampak memiliki arti tertentu. Jadi, film tersebut tidak berhubungan secara langsung dengan perkembangan bicara anak.

Cek Bahasa Reseptif (Pemahaman)

Sebaiknya Moms juga mengecek bagaimana perkembangan bahasa reseptifnya. Misalnya apakah ia bisa mengerti apa yang Moms ucapkan, bisa mengenali kata-kata jika ditunjukan bendanya.

Moms juga bisa melakukan konsultasi ke dokter spesialis anak untuk melihat apakah ada gangguan dalam organ bicara si kecil ataupun keterlambatan dari aspek lainnya. Hal ini perlu dilakukan agar si kecil bisa terdeteksi jika mengalami gangguan yang lebih serius daripada keterlambatan bahasa.

Lakukan Stimulasi

Jika memang tidak ada gangguan dalam organ bicara ataupun keterlambatan dalam pemahaman juga aspek perkembangan lainnya Moms hanya perlu memberikan stimulasi yang tepat. Karena saat ini si kecil masih banyak mengeluarkan huruf vokal maka orangtua bisa memperkaya bunyi huruf vokal si kecil misalnya dengan menirukan atau menyebutkan huruf vokal lainnya yang jarang disebutkan si kecil.

Moms juga bisa memberikan stimulasi berupa menyederhanakan pengucapan kata tertentu untuk membantu si kecil bisa menyebut kata pertamanya. Misalnya mengatakan ‘Ma’ untuk menggantikan Mama. Moms bisa memegang tangan si kecil ke dada Moms saat mengucapkan ‘Ma’ agar ia mengerti suku kata itu untuk menyebut Anda. Perbanyak pula berkomunikasi dengan si kecil dengan suara dan pengucapan yang jelas agar si kecil dapat menangkap suara dengan baik.

Namun, bila terjadi keterlambatan dalam aspek lain maka ada baiknya meminta rujukan dari dokter spesialis Anda untuk mendapatkan terapi yang sesuai dengan kebutuhan si kecil.

Sementara hobinya menonton film kartun tanpa dialog, sebaiknya saat menonton Mom mendampinginya. Jadi meski tanpa dialog, Mom tetap bisa menjelaskan maksudnya dari jalan ceritanya. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie) (ftr)

READ MORE - Kok Adik Belum Bisa Ngomong?

Wednesday, November 16, 2011

Tidak Belajar Prestasi Sekolah Memuaskan, Kok Bisa?

“DEK, nggak belajar, ada PR, kan?” Lain hari, “Besok ada ulangan kan? Kok nggak belajar?” Sampai pada suatu waktu, “Dek, Mama lihat kok kamu nggak pernah belajar sih!”.

Tak sedikit orangtua dibuat bingung dalam menghadapi si kecil yang ‘tidak mau’ belajar. Tapi yang lebih membingungkan, biarpun tidak belajar, nilai-nilai yang diperolehnya memuaskan dan prestasinya di sekolah cukup membanggakan. Kok bisa ya? Kapan dia belajar?

Jangan tambah bingung Moms, bisa saja si kecil ‘penganut’ gaya belajar auditori. Kalau masih bingung, nggak ada salahnya Moms menyimak pembahasan di bawah ini.

Tiga Gaya Beda Cara

Perlu diketahui, ada tiga karakteristik cara belajar anak, yaitu auditori, visual dan kinestetik. Cara belajar auditori belajar dengan mendengar. Anak yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga.

Cara belajar visual belajar dengan cara melihat. Anak bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan. Dan yang terakhir adalah cara belajar kinestetik belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh.

Mendengar dan Menyimak

Khusus untuk gaya belajar auditori, anak memang lebih mudah menangkap materi pelajaran dengan mendengar dan menyimak apa yang guru jelaskan. Dan inilah yang kadang menjadi kesalahpahaman para orangtua. Karena, mereka seringkali melihat si kecil tidak pernah belajar saat di rumah.

Menurut Barbe (1998) dalam bukunya Growing Up Learning: Identifying and Teaching Children With Different Learning Styles, anak dengan gaya belajar auditori adalah anak-anak yang aktif berbicara, mungkin ia menganggu teman-temannya di kelas karena membaca buku dengan keras dan berpikir ia sedang membaca sendiri; ia kerap mengulang-ulang kata baru yang ia pelajari; ia aktif bertanya dan tidak mudah puas dengan jawaban “tidak tahu” karena ia akan terus bertanya; emosinya mudah dikenali dengan suara yang makin keras atau cara ia memecahkan masalahnya dengan mencari teman berbicara; mungkin saat sedang mengerjakan sesuatu ia menyenandungkan lagu, ia bergumam sambil bermain; suka berbicara tapi sering tak sabar jika harus mendengar orang lain bicara. Bila Moms menemui gaya belajar si kecil seperti itu, berarti si kecil memiliki gaya belajar auditori.

Plus-Minus Belajar Auditori

Prinsipnya, setiap gaya belajar ada kelebihan dan kekurangannya. Seperti halnya gaya belajar auditori. Pada gaya belajar ini, anak cukup mendengarkan untuk memahami apa yang diutarakan oleh guru. Selain itu, Moms juga cenderung lebih mudah mengetahui bila si kecil mengalami masalah, karena dia akan langsung membicarakannya.

Namun sayangnya, gaya auditori ini dianggap mengganggu teman-teman di kelasnya, karena anak aktif berbicara, apalagi saat guru sedang menerangkan atau menjelaskan pelajaran. Tak hanya itu, si kecil mungkin akan mengalami kesulitan ketika dirinya diminta membaca buku-buku pelajaran yang hanya berisikan tulisan.

Anak dengan tipe auditori akan lebih mudah memahami bacaan yang mengandung dialog antartokohnya, jika ada yang menemaninya membaca atau jika dia membaca dengan bersuara cukup keras sehingga dapat dia dengarkan sendiri.

Walaupun anak cepat memahami dengan apa yang sudah didengarnya, tidak ingat atau lupa mungkin saja terjadi. Nah, untuk anak dengan gaya belajar seperti ini, Moms bisa memintanya membuat catatan kecil berisi hal-hal/poin-poin penting yang dia dengar, tak harus mencatat dengan rapi semua penjelasan guru. Pengulangan dengan membaca keras atau mengulang kata-kata yang perlu diingat juga akan berguna bagi mereka dalam mengingat kembali apa yang sudah didengar.

Tetap Dukung Gaya Belajarnya

Untuk mengetahui gaya belajar si kecil, Moms dapat mengamati tingkah lakunya sehari-hari. Misal, bila anak cepat hapal dengan tempat-tepat, simbol atau cepat tanggap bila diterangkan dengan bagan, artinya kepekaan visualnya bagus.

Setelah mengetahui gaya belajar si kecil, dukunglah ia dengan masing-masing cara yang dikuasainya. Untuk cara belajar auditorial, orangtua jangan melarang anak menghapal sambil berbicara keras. Gunakan pengulangan ucapan, namun jangan terlalu panjang. Berikan kesempatan baginya untuk tanya-jawab atau membaca keras – cukup didengar olehnya tanpa bisa didengar orang lain - soal yang diberikan. Jika memungkinkan libatkan si kecil dalam kelompok-kelompok diskusi sehingga ia akan lebih mudah memahami materi. Pada anak yang lebih besar - jika memungkinkan - materi yang diajarkan akan lebih terekam dalam ingatannya dan mudah untuk memutar ulang kembali di rumah daripada diminta hanya sekadar membaca bahan-bahan foto kopi. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie) (ftr)

READ MORE - Tidak Belajar Prestasi Sekolah Memuaskan, Kok Bisa?