Tuesday, February 8, 2011

Ibu Hamil Tinggal Dekat Jalan Besar Berisiko Lahirkan Bayi Prematur

SHUTTERSTOCK Ibu hamil yang terlalu sering terpapar polusi udara berisiko melahirkan bayi prematur. Artikel Terkait: Minuman Soda Memicu Kelahiran Prematur? Bayi Terlalu Prematur Sulit Bertahan Hidup Sakit Gigi Saat Hamil Bikin Bayi Lahir Prematur Bayi Kembar Tiga Akan Diadopsi Bayi 'Hidup Kembali' Akhirnya Meninggal GramediaShop : For The Love Of The Game GramediaShop : Visitor In The Night Of Star Senin, 31/1/2011 | 13:16 WIB

KOMPAS.com - Para periset di Okayama Graduate School of Medicine meneliti sekitar 14 ribu anak yang lahir antara 1997-2008. Dari hasil tersebut, terlihat bahwa para ibu hamil yang tinggal dekat dari jalan utama atau jalan raya memiliki risiko melahirkan anak dalam kondisi lebih cepat dari waktu yang seharusnya, 37 minggu. Peningkatan risiko bayi lahir prematur sebelum usia 37 minggu itu sekitar 50 persen, begitu yang dilaporkan oleh Telegraph. Sebanyak 62 persennya melahirkan sebelum usia kandungan 32 minggu, sebagian lainnya (80 persen) melahirkan bayi sebelum usia kandungan 28 minggu.

Mayoritas bayi terlahir hanya beberapa minggu lebih cepat dari waktu seharusnya tidak memiliki gangguan atau masalah jangka panjang yang berarti pada kesehatannya. Namun, jika terlalu dini kelahiran bayi, makin tinggi pula risiko bayi tidak sanggup bertahan dan bayi yang berhasil bertahan punya risiko masalah kesehatan jangka panjang, seperti cerebral palsy, kebutaan, dan tuli.

Kepala peneliti tersebut, dr Takashi Yorifuji dan timnya menemukan bahwa 15 persen partisipan (ibu hamil) yang tinggal 200 meter dari jalan utama melahirkan bayi sebelum usia kandungan mencapai 37 minggu.

Dikutip dari Telegraph, dr Yorifuji mengungkapkan bahwa kemungkinan hal ini terjadi akibat paparan polusi udara yang diterima oleh si ibu hamil. Risiko ini cukup tinggi pada wanita hamil yang tinggal di rumah ketimbang wanita bekerja. Bisa jadi karena wanita hamil yang tinggal di rumah dekat jalan raya tersebut terkena paparan polusi lebih sering dan konstan. Para peneliti juga mengatakan hasilnya tetap sama di status ekonomi apa pun.


NAD

Editor: Nadia Felicia

0 comments: