Friday, February 11, 2011

Suami Enggak Kompak Saat Mengasuh Anak

SHUTTERSTOCK Jangan bertengkar di depan anak mengenai perbedaan Anda dalam mengasuh anak. Artikel Terkait: 7 Trik Menciptakan Keluarga Bebas Stres Trik Menjadi Ibu Bekerja yang SuperSibuk Trik Jadi Ibu yang Lebih Santai GramediaShop : Battle Story Rockman Exe 04 GramediaShop : Ceremony In Death Senin, 7/2/2011 | 15:07 WIB

KOMPAS.com - Semakin banyak perempuan yang bekerja di luar rumah, sehingga tugas pengasuhan anak dibagi berdua dengan suami. Berbagi tugas penting dilakukan, meskipun Anda seorang ibu rumah tangga, karena bagaimanapun akan lebih baik bila ayah terlibat secara aktif dalam pengasuhan anak.

Menurut Kyle D Pruett, MD, profesor klinis Child Psychiatry and Nursing di Yale School of Medicine dan penulis buku Partnership Parenting, perilaku anak dan prestasi akademiknya akan lebih baik jika si ayah ikut terlibat dalam hidupnya. Sementara si ibu biasanya juga akan lebih terikat secara emosional dengan pasangannya bila pasangan mampu menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya.

Yang menjadi masalah adalah ketika ayah dan ibu memiliki gaya pengasuhan yang berbeda. Umumnya yang terjadi, ibu bersikap tegas pada anak, sedangkan ayah cenderung bersikap lunak atau serbaboleh. Atau, suami menerapkan gaya pengasuhan yang didapatnya dari orangtuanya dulu, padahal Anda tidak menyukai gaya tersebut. Tak heran, Dr Pruett mengatakan, "Karena itu, berbagi tugas pengasuhan itu bisa menyenangkan, tapi juga menantang."

Anda dan suami tak boleh menyerah dan terus bertengkar mengenai perbedaan ini. Anda berdua bertugas untuk memadukan latar belakang dan gaya pengasuhan yang berbeda tersebut, sehingga anak tumbuh dalam suasana rumah yang harmonis.

"Sebaiknya, ayah dan ibu saling ngobrol lebih dulu, bagaimana pengalaman mereka bisa berguna saat mereka menjadi orangtua, baik dengan anak maupun satu sama lain. Kebanyakan orangtua menghabiskan banyak waktu untuk memilih kertas dinding di kamar anak daripada mendiskusikan topik-topik yang berkaitan dengan perkembangan anak," tutur Dr Pruett. Contohnya, apakah anak perlu ditemani tidur, apakah bisa dititipkan ke tempat penitipan anak saat kedua orangtua bekerja, atau bagaimana cara meredakan tangis bayi.

Berbeda itu baik
Ada penelitian yang menunjukkan bahwa pasangan yang meluangkan waktu untuk membicarakan masalah pengasuhan sebelum anak lahir akan tetap tenang daripada pasangan yang tidak membahas secara terbuka sebelumnya. Anda akan memetik manfaat dari komunikasi terbuka ini ketika Anda dan suami melihat perbedaan nyata dalam gaya Anda mengasuh anak. Entah itu terjadi ketika anak baru lahir, bertumbuh menjadi balita, dan selanjutnya.

Dr Pruett mengatakan bahwa ia juga sering mendengar nasihat dari neneknya, bahwa suami dan istri harus kompak dalam mengasuh anak. "Jujur saja, itu tidak mungkin. Kita kan dua orang yang berbeda. Pola pengasuhan kita sangat tergantung dari pengalaman dengan keluarga kita sendiri, jenis kelamin, dan kepribadian kita. Anda tak mungkin bisa kompak terus-menerus!" tukasnya.

Mengasuh dan membesarkan anak dengan cara yang sama sepanjang waktu mungkin saja ideal, namun Dr Pruett mengingatkan bahwa anak-anak justru akan mengambil manfaat dari gaya pengasuhan yang berbeda. Ia menggambarkan bahwa pengasuhan adalah sebuah kerja tim. Kuncinya adalah mendukung pasangan saat di depan anak, dan tetap terbuka dengan pasangan. Bicarakan apa yang sangat penting bagi Anda ketika sedang bersama suami.

Contoh yang paling mudah, apa yang harus dilakukan bila anak mogok makan? Para ayah biasanya akan membiarkan, karena berpikir anak pasti akan meminta sendiri makanannya bila memang sudah lapar. Tetapi para ibu biasanya tidak bisa menerima hal ini. Ketika anak mogok makan bila tak ada fast food, lalu ayah cenderung mengabulkan permintaannya sedangkan Anda terus membujuknya untuk mengonsumsi apa yang ada di rumah, nah... anak akan melihat Anda sebagai sosok antagonis. Di sinilah Anda perlu menjelaskan pada suami, apa pentingnya bila anak mengonsumsi makanan yang lebih sehat. Pertimbangan yang lebih penting, apa manfaatnya bila bersepakat dalam mengatakan apa yang boleh dan tidak boleh untuk anak. Sedangkan untuk hal-hal yang sifatnya kurang prinsip, lebih baik berkompromi saja.

Jika Anda memberikan upaya yang berarti ke dalam pengasuhan dan selalu membahasnya bersama pasangan, kelak si kecil akan mengambil manfaatnya. Ia akan belajar dari Anda berdua, bahwa perbedaan itu baik dan tak perlu dihindari. Lagipula, dunia akan membosankan jika kita semua selalu sama bukan?


DIN

Editor: Dini

0 comments: